Rabu, 09 Juli 2014

Curriculum Vitae (CV)



Curriculum Vitae (CV)
Text Box:  Put 
 
 Your

 Photo

 Here
 


Kurnia Ambarwati
Personal details
Alamat                        : Perumahan Limus Pratama Regency
                                     Jl. Bandung Blok L no.20
 Cileungsi - Bogor     
Tempat /                      : Klaten, 1 Juli 1993   
Tanggal Lahir
Jenis Kelamin               : Wanita
Agama                         : Islam
No. Telp                      : 0812-9850-0207
Email                            : ambarwati.kurnia@yahoo.com
Kebangsaan                 : WNI
GPA                            : 3,73 of 4


Education Details
2009 – 2013                Information System (S1) of Gunadarma University, Depok.
2006 – 2009                SMAN 1 Cileungsi - Bogor.

Non Formal Education
2010 - 2011                 English Course – Michigan Internasional English School (Intermediate 2)

Achievements
-
Job Experiences       
                                                                                                                    Dates of employment
-

 Skills
·         Microsoft Office, SPSS.
·         English (intermediate level)
·         Internet & Computer Litterature


Certificate
  -        

Organizational Experience
v  2011 - 2012                 HMSI (Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi)
v  2008 – 2010                Anggota OSIS SMA Negri 1 Cileungsi
Bidang Olahraga




          COVER LETTER

Kurnia Ambarwati
ambarwati.kurnia
@yahoo.com
0812-9850-0207



Kepada Yth.
Kepala Bagian HRD PT. Acset Indonusa
Di tempat

Saya menulis surat lamaran ini untuk bergabung bersama perusahaan yang bapak / ibu pimpin. Saya adalah fresh graduate dari Universitas Gunadarma program studi S1 Sistem informasi dengan GPA 3,73. Sebagai fresh graduate, saya belum memiliki pengelaman kerja yang dapat saya banggakan. Saya memiliki inisiatif serta rasa tanggung jawab yang besar terhadap pekerjaan. Saya mampu bekerja baik dalam team maupun individual. Saya juga memiliki keahlian berbahasa inggris yang cukup baik dan memiliki kemauan yang tinggi untuk selalu belajar. Saya memiliki passion untuk bekerja di bidang sistem, dan harapan saya sangat besar untuk dapat bergabung dengan perusahaan yang bapak/ibu pimpin.

Bersama surat ini saya lampirkan CV yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bapak/ibu dalam mengambil keputusan. Atas segala perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
                                                                                                                                                                                                                                                      

                                    
                                                                                              Hormat saya,



                                                                                                                                                                                                                               Kurnia Ambarwati


Senin, 09 Juni 2014

PUISI

Nyanyian Malam

Sunyi adalah malam, tetapi di dalam jubah kesunyian
Mimpi membohongi penantian
Bulan berputar di atas kepala
Matanya yang tajam mengamati
Hari-hari yang berlalu
***
Biarkan aku membawa mu
Anak perempuan lading
Ke taman buah sang kekasih
Anggur yang kita peras akan memadamkan
Bara api kerinduan
***
Tidakkah engkau mendengar burung bul-bul
Diluar padang itu
Menyenandungkan nyanyian-nyanyian?
Napas perbukitan telah memenuhi langit
Napasnya semerbak dedauan
***
Engkau tidak perlu takut, kekasihku
Sebab tak pernah bintang-bintang diatas sana
Mengungkapkan apa yang mereka ketahui
Kabut tebal malam berputar-putar
Ditaman buah itu
Mereka menyelubungi rahasia-rahasia kita
***
Engkau tidak perlu takut, pengantin rohku
Akan menjelma dari gua gaib
Ia akan terbaring dalam tidur panjang
Tak terlihat
Oleh apa pun kecuali oleh mata waktu
***
Raja roh, jika ia lewat, biarkan gairah
Memberikan dia pujian semestinya
Seperti diriku, dia jatuh cinta dan tak akan

Memahami cinta karena dia terbakar juga


URL VIDEO : http://www.youtube.com/watch?v=Moa9NQJIbOs



Resensi Buku

Judul Buku   : Seni, Tradisi, Masyarakat
Penulis           : Umar Kayam
Penerbit         : Sinar Harapan
Tahun terbit  : Seri Esni No. 3 tahun 1981
Tebal Buku   : 184 Halaman

Kesenian adalah salah satu unsur yang menyangga suatu kebudayaan dan berkembang menurut kondisi dari kebudayaan itu. Kebudayaan Indonesia merupakan suatu kondisi yang bermodalkan berbagai kebudayaan lingkungan wilayah yang berkembang menurut tuntutan sejarahnya masing-masing.
Kesenian tradisional di Asia Tenggara tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat tradisional diwilayah itu. Dengan demikian ia mengandung sifat atau ciri-ciri yang khas dari masyarakat yang tradisional pula. Peranan seni tradisional dalam suatu proses seperti integrasi nasional dan modernisasi itu nampaknya akan lebih banyak. Peranan seni tradisional itu akan lebih berarti pada kemampuannya untuk merangkum unsur-unsur yang ada.
Contoh dari seni tradisonal adalah lenong. Lenong adalah  suatu bentuk teater rakyat gaya Jakarta yang tumbuh pada sekitar akhir abad ke-19 di daerah Jakarta. Lenong sang teater rakyat betawi Berjaya disatu kompleks pusat kesenian yang terdiri  dari berbagai sarana kesenian baru, kontemporer dan kota. Sebagai satu pusat kesenian dilingkungan social kota metropolitan menjadikan lenong sebagai pengisi tetap acaranya.
Seperti teater rakyat lainnya, lenong adalah bagian yang akrab dari masyarakat. Lenong tumbuh bersama dengan unsur-unsur lainnya yang membangun keutuhan dan keseimbangan masyarakat itu. Lenong sudah bukan lagi teaternya orang Jakarta tetapi juga teaternya orang-orang dari suku lain yang tinggal di Jakarta. Anak-anak muda dari berbagai suku lainnya yang tinggal di Jakarta banyak yang datang menghadiri lenong itu adalah suatu fenomena yang menarik. Sambutan meluap yang hamper seketika diberikan oleh khalayak Jakarta kepada lenong. Lenong dimainkan di teater terbuka itu selalu hampir penuh.  Dari kondisi mengkhawatirkan lenong tiba-tiba meloncat kekondisi puncak. Dimana menonton lenong dianggap sebagai suatu keharusan dikalangan muda-mudi Jakarta.
Tetapi kepopulerannya dikalangan rakyat menyusut dengan adanya hiburan lain seperti bioskop, orkes dan sebagainya mulai muncul. Lenong makin terdepak kepinggir dan hanya dimainkan dipinggiran kota saja.

Ø  Kelebihannya:  Didalam buku ini tidak hanya menceritakan tentang kisah budaya lenong, tetapi dilampirkan juga berbagai gambar kesenian tersebut agar lebih memuaskan para pembaca yang ingin melihat gambarannya langsung seperti apa. Dan tidak hanya itu penulis memberikan berbagai percakapan antar tokoh yang ada didalam buku tersebut. Supaya tidak terlihat monoton saat dibaca seperti kebanyakan buku lainnya.

Ø  Kekurangannya:  penulis menggunakan bahasa dengan ekspetasi yang sangat tinggi. Dan saya sebagai pembaca kurang mengerti kata-kata yang dipakai oleh penulis. Gaya bahasanya terlalu berlebihan. Lebih mengedepankan isi curahan hati sang penulis. Pengaturan pokok pembahasan tiap bab nya tidak teratur dan tidak terstruktur dengan baik. Jadi, tidak terlalu menarik banyak minat pembaca untuk tertarik pada buku ini.

Senin, 28 April 2014

Biografi Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien,  adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Cut Nyak Dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besar, wilayah VI Mukim pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, seorang uleebalang VI Mukim, yang juga merupakan keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau. Datuk Makhudum Sati mungkin datang ke Aceh pada abad ke 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir. Oleh sebab itu, Ayah dari Cut Nyak Dhien merupakan keturunan Minangkabau. Ibu Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang Lampagar.
Masa kecil Cut Nyak Dien adalah sosok wanita yang cantik. Saat masih muda banyak laki-laki yang menaruh hati padanya, bukan hanya karena kecantikkannya tetapi juga karena dia dikenal sebagai wanita yang memiliki pengetahuan luas tentang agama, baik yang dipelajari dari guru agama maupun dari orang tuanya sendiri. Pada usia 12 tahun tepatnya pada tahun 1862, Cut Nyak Dien dinikahkan orang tuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang merupakan putra dari seorang uleebalang Lamnga XIII dari pernikahan itu beliau dikaruniai satu orang anak. Sepeninggal suaminya pasca penyerangan  Belanda terhadap wilayah VI Mukim yang menyebabkan Teuku Cek Ibrahim Lamnga tewas.
Teuku Umar, salah satu tokoh yang melawan Belanda, melamar Cut Nyak Dhien. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolak, tetapi karena Teuku Umar memperbolehkannya ikut serta dalam medan perang, Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya pada tahun 1880. Mereka dikaruniai anak yang diberi nama Cut Gambang. Setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, ia bersama Teuku Umar bertempur bersama melawan Belanda. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat.
Pada tanggal 30 September 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan menyerahkan diri kepada Belanda. Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan Teuku Umar gelar Teuku Umar Johan Pahlawan dan menjadikannya komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh. Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu Belanda, meskipun ia dituduh sebagai penghianat oleh orang Aceh. Bahkan,Cut Nyak Meutia datang menemui Cut Nyak Dhien dan memakinya. Cut Nyak Dien berusaha menasehatinya untuk kembali melawan Belanda. Namun, Teuku Umar masih terus berhubungan dengan Belanda. Umar lalu mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.
Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat, senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar). Teuku Umar yang mengkhianati Belanda menyebabkan Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap baik Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar. Namun, gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda sementara Jend. Van Swieten diganti. Penggantinya, Jend. Jakobus Ludovicius Hubertus Pel, dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan. Belanda lalu mencabut gelar Teuku Umar dan membakar rumahnya, dan juga mengejar keberadaannya.
Cut Nyak Dien dan Teuku Umar terus menekan Belanda, lalu menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jendral yang bertugas. Unit Maréchaussée lalu dikirim ke Aceh. Mereka dianggap biadab dan sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh. Selain itu, kebanyakan pasukan De Marsose merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan semua yang ada di jalannya. Akibat dari hal ini, pasukan Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan Van der Heyden membubarkan unit De Marsose. Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jendral selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh.
Jendral Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya, Teuku Umar gugur tertembak peluru. Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien, menangis karena kematian ayahnya, ia ditampar oleh ibunya yang lalu memeluknya dan berkata:
Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid
Cut Nyak Dien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh. Selain itu, Cut Nyak Dien sudah semakin tua. Matanya sudah mulai rabun, dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulit memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya.
Cut Nyak Dien, setelah tertangkap oleh pihak Belanda Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena iba. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Sayangnya, aksi Dien berhasil dihentikan oleh Belanda. Cut Nyak Dien ditangkap, sementara Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya.
Setelah ditangkap, Cut Nyak Dien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di situ. Penyakitnya seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Dien akhirnya dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk. Ia dibawa ke Sumedang bersama dengan tahanan politik Aceh lain dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian mereka pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapan identitas tahanan. Ia ditahan bersama ulama bernama Ilyas yang segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli dalam agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai "Ibu Perbu".
Pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dien meninggal karena usianya yang sudah tua. Makam "Ibu Perbu" baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, Ali Hasan. "Ibu Perbu" diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964

PENGHARGAAN YANG DIBERIKAN
·         Gelar Pahlawan Nasional (1964)
·         Namanya diabadikan sebagai salah satu nama kapal perang Indonesia

Sumber:

Selasa, 25 Maret 2014

SEJARAH IBU KOTA JAKARTA

Nama kota Jakarta pertama kali dikenal sebagai salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda yang bernama Sunda Kalapa, berlokasi di muara Sungai Ciliwung. Menurut sumber Portugis, Sunda Kalapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Sunda selain pelabuhan Banten, Pada abad ke-12, pelabuhan ini dikenal sebagai pelabuhan lada yang sibuk. Kapal-kapal asing yang berasal dari TiongkokJepangIndia Selatan, dan Timur Tengah sudah berlabuh di pelabuhan ini membawa barang-barang seperti porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, dan zat warna untuk ditukar dengan rempah-rempah yang menjadi komoditas dagang saat itu.
Jayakarta
Pada tahun 1527-1619 bangsa Portugis merupakan Bangsa Eropa pertama yang datang ke Jakarta. Pada abad ke-16Surawisesa, raja Sunda meminta bantuan Portugis yang ada di Malaka untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa sebagai perlindungan dari kemungkinan serangan Cirebon yang akan memisahkan diri dari Kerajaan SundaPenetapan hari jadi Jakarta tanggal 22 Juni oleh Sudiro, wali kota Jakarta, pada tahun 1956 adalah berdasarkan tragedi pendudukan pelabuhan Sunda Kalapa oleh Fatahillah pada tahun 1527. Fatahillah mengganti nama kota tersebut menjadi Jayakarta yang berarti "kota kemenangan". Selanjutnya Sunan Gunung Jati dariKesultanan Cirebon, menyerahkan pemerintahan di Jayakarta kepada putranya yaitu Maulana Hasanuddin dari Banten yang menjadi sultan di Kesultanan Banten.
Batavia
Tahun 1619-1942 orang Belanda datang ke Jayakarta sekitar akhir abad ke-16, setelah singgah di Banten pada tahun 1596. Jayakarta pada awal abad ke-17 diperintah oleh Pangeran Jayakarta, salah seorang kerabat Kesultanan Banten. Pada 1619VOC dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen menduduki Jayakarta setelah mengalahkan pasukan Kesultanan Banten dan kemudian mengubah namanya menjadi Batavia. Waktu itu luas Batavia hanya mencakup daerah yang saat ini dikenal sebagai Kota Tua di Jakarta Utara.

Jakarta
Pada tahun 1942 saat Indonesia masih dijajah oleh Jepang, dimulai pada tahun 1942 dan mengganti nama Batavia menjadi Djakarta untuk menarik hati penduduk pada Perang Dunia II. Kota ini juga merupakan tempat dilangsungkannya Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan diduduki Belanda sampai pengakuan kedaulatan tahun 1949.
Sebelum tahun 1959, Djakarta merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat. Pada tahun 1959, status Kota Djakarta mengalami perubahan dari sebuah kotapraja di bawah wali kota ditingkatkan menjadi daerah tingkat satu (Dati I) yang dipimpin oleh gubernur. Yang menjadi gubernur pertama ialah Soemarno Sosroatmodjo, seorang dokter tentara. Pengangkatan Gubernur DKI waktu itu dilakukan langsung oleh Presiden Sukarno. Pada tahun 1961, status Jakarta diubah dari Daerah Tingkat Satu menjadi Daerah Khusus Ibukota (DKI) dan gubernurnya tetap dijabat oleh Sumarno.
Ekonomi
Kota Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Saat ini, lebih dari 70% uang negara beredar di Jakarta. Perekonomian Jakarta terutama ditunjang oleh sektor perdagangan, jasa, properti, industri kreatif, dan keuangan. Pada tahun 2012, pendapatan per kapita masyarakat Jakarta sebesar Rp 110,46 juta per tahun (USD 12,270). Sedangkan untuk kalangan menengah atas dengan penghasilan Rp 240,62 juta per tahun (USD 26,735), mencapai 20% dari jumlah penduduk. Di sini juga bermukim lebih dari separuh orang-orang kaya di Indonesia dengan penghasilan minimal USD 100,000 per tahun. Kekayaan mereka terutama ditopang oleh kenaikan harga saham serta properti yang cukup signifikan. Saat ini Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan harga properti mewah yang tertinggi di dunia, yakni mencapai 38,1%. Selain hunian mewah, pertumbuhan properti Jakarta juga ditopang oleh penjualan dan penyewaan ruang kantor. Pada periode 2009-2012, pembangunan gedung-gedung pencakar langit (di atas 150 meter) di Jakarta mencapai 87,5%. Hal ini telah menempatkan Jakarta sebagai salah satu kota dengan pertumbuhan pencakar langit tercepat di dunia.
Transportasi
Di kota Jakarta, tersedia jaringan jalan raya dan jalan tol yang melayani seluruh kota, namun perkembangan jumlah mobil dengan jumlah jalan sangatlah timpang (5-10% dengan 4-5%).
Untuk melayani mobilitas penduduk Jakarta, pemerintah menyediakan sarana bus PPD. Selain itu terdapat pula bus kota yang dikelola oleh pihak swasta, seperti Mayasari Bhakti, Metro Mini, Kopaja, dan Bianglala. Bus-bus ini melayani rute yang menghubungkan terminal-terminal dalam kota, antara lain Pulogadung, Kampung Rambutan, Blok M, Kalideres, Grogol, Tanjung Priok, Lebak Bulus, Rawamangun, dan Kampung Melayu.
Untuk angkutan lingkungan, terdapat angkutan kota seperti Mikrolet dan KWK, dengan rute dari terminal ke lingkungan sekitar terminal. Selain itu ada pula ojekbajaj, dan bemo untuk angkutan jarak pendek. Tidak seperti wilayah lainnya di Jakarta yang menggunakan sepeda motor, di kawasan Tanjung Priok dan Jakarta Kota, pengendara ojek menggunakan sepeda ontel. Angkutan becak masih banyak dijumpai di wilayah pinggiran Jakarta seperti di Bekasi, Tangerang, dan Depok.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memulai pembangunan kereta bawah tanah (subway) pada 2 Mei 2013 yang dananya diperoleh dari pinjaman lunak negara Jepang. Subway jalur Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia sepanjang 15 km ditargetkan beroperasi pada 2017. Jalur kereta monorel juga sedang dipersiapkan melayani jalur Semanggi - Roxy yang dibiayai swasta dan jalur Kuningan - Cawang - Bekasi - Bandara Soekarno Hatta yang dibiayai pemerintah pusat. Untuk lintasan kereta api, pemerintah pusat sedang menyiapkandouble track pada jalur lintasan kereta api Manggarai-Cikarang. Selain itu juga, saat ini sedang dibangun jalur kereta api dari Manggarai menuju Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng.
Agama
Agama yang dianut oleh penduduk di kota Jakarta beragam. Menurut data pemerintah DKI pada tahun 2005, komposisi penganut agama di kota ini adalah Islam (84,4%), Kristen Protestan (6,2 %), Katolik (5,7 %), Hindu (1,2 %), dan Buddha (3,5 %). Jumlah umat Buddha terlihat lebih banyak karena umat Konghucu juga ikut tercakup di dalamnya. Angka ini tidak jauh berbeda dengan keadaan pada tahun 1980, dimana umat Islam berjumlah 84,4%; diikuti oleh Protestan (6,3%), Katolik (2,9%), Hindu dan Buddha (5,7%), serta Tidak beragama (0,3%). Menurut Cribb, pada tahun 1971 penganut agama Kong Hu Cu secara relatif adalah 1,7%. Pada tahun 1980 dan 2005, sensus penduduk tidak mencatat agama yang dianut selain keenam agama yang diakui pemerintah.

Etnis
Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, tercatat bahwa penduduk Jakarta berjumlah 8,3 juta jiwa yang terdiri dari orang Jawa sebanyak 35,16%, Betawi(27,65%), Sunda (15,27%), Tionghoa (5,53%), Batak (3,61%), Minangkabau (3,18%), Melayu (1,62%), Bugis (0,59%), Madura (0,57%), Banten (0,25%), danBanjar (0,1%).
Jumlah penduduk dan komposisi etnis di Jakarta, selalu berubah dari tahun ke tahun. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, tercatat bahwa setidaknya terdapat tujuh etnis besar yang mendiami Jakarta. Suku Jawa merupakan etnis terbesar dengan populasi 35,16% penduduk kota. Etnis Betawi berjumlah 27,65% dari penduduk kota. Pembangunan Jakarta yang cukup pesat sejak awal tahun 1970-an, telah banyak menggusur perkampungan etnis Betawi ke pinggiran kota. Pada tahun 1961, orang Betawi masih membentuk persentase terbesar di wilayah pinggiran seperti Cengkareng, Kebon Jeruk, Pasar Minggu, dan Pulo Gadung.
Orang Tionghoa telah hadir di Jakarta sejak abad ke-17. Mereka biasa tinggal mengelompok di daerah-daerah permukiman yang dikenal dengan istilah Pecinan. Pecinan atau Kampung Cina dapat dijumpai di Glodok, Pinangsia, dan Jatinegara, selain perumahan-perumahan baru di wilayah Kelapa Gading, Pluit, danSunter. Orang Tionghoa banyak yang berprofesi sebagai pengusaha atau pedagang. Disamping etnis Tionghoa, etnis Minangkabau juga banyak yang berdagang, di antaranya perdagangan grosir dan eceran di pasar-pasar tradisional kota Jakarta.
Masyarakat dari Indonesia Timur, terutama etnis Bugis, Makassar, dan Ambon, terkonsentrasi di wilayah Tanjung Priok. Di wilayah ini pula, masih banyak terdapat masyarakat keturunan Portugis, serta orang-orang yang berasal dari Luzon, Filipina.

Geografi
Kota Jakarta berlokasi di sebelah utara Pulau Jawa, di muara Ciliwung, Teluk Jakarta. Jakarta terletak di dataran rendah pada ketinggian rata-rata 8 meter dpl. Hal ini mengakibatkan Jakarta sering dilanda banjir. Sebelah selatan Jakarta merupakan daerah pegunungan dengan curah hujan tinggi. Jakarta dilewati oleh 13 sungai yang semuanya bermuara ke Teluk Jakarta. Sungai yang terpenting ialah Ciliwung, yang membelah kota menjadi dua. Sebelah timur dan selatan Jakarta berbatasan dengan provinsi Jawa Barat dan di sebelah barat berbatasan dengan provinsi Banten.

Iklim
Jakarta memiliki suhu udara yang panas dan kering atau beriklim tropis. Terletak di bagian barat Indonesia, Jakarta mengalami puncak musim penghujan pada bulan Januari dan Februari dengan rata-rata curah hujan 350 milimeter dengan suhu rata-rata 27 °C. Curah hujan antara bulan Januari dan awal Februari sangat tinggi, pada saat itulah Jakarta dilanda banjir setiap tahunnya, dan puncak musim kemarau pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan 60 milimeter . Bulan September dan awal oktober adalah hari-hari yang sangat panas di Jakata, suhu udara dapat mencapai 40 °C. Suhu rata-rata tahunan berkisar antara 25°-38 °C (77°-100 °F). 

SUMBER